Kamis, 02 April 2009

mahluk-mahluk kecil

"Mas...mas...."
Seorang
anak kecil berlari mendekatiku. Menceritakan dunianya yang sederhana...sangat sederhana. Tanpa prasangka dia menumpahkan seluruh cerita... imajinasi polosnya dengan sedikit bumbubumbu lucu.

Seringkali dia datang di workshopku yang serius, membawa balatentara anak-anak, memporakporandakan apa saja yang ada... menganggap dunia adalah tempat terindah buat bermain,  berekspresi... dokterdokteran... pasarpasaran... rumahrumahan... sekolahsekolahan... seperti itu, dengan benda-benda yang sama, alat-alat yang sama, dimana aku selalu menggunakannya tuk bekerja.

"Mas...mas...aku udah bisa menggambar huruf A,B,C!!!" teriaknya suatu hari. Sobekan kertas bergambar abjad-abjad morakmarik diperlihatkan justru ketika aku sangat serius mempersiapkan kerjaku... Mau tak mau aku geli juga melihat coretmoret yang nyeni ditangannya. Ha..ha..ha..aku sering tenggelam disitu, mengajarinya "menggambar" huruf demi huruf... hingga lupa pekerjaanku yang terbengkalai bisa bawa petaka.

"Mas...mas..."
Kini dia datang lagi. Tubuhnya basah kuyup. Air menetes deras dari ujung-ujung bajunya. Membasahi workshopku... mematahkan konsentrasiku. Tapi dengan riang dia mencipratiku... mengajak bermain, membuat jejak-jejak... membuat tetes-tetes ditiap sudut tanpa sisa.

"Mas...mas...aku udah mandi. Coba cium...! Wangi, kan?" katanya ceria dikesempatan lain. Dia memeluk, lalu mencoba duduk dipangkuanku, menikmati kenyamanan...

"Mas..mas..."
Lagi-lagi dia datang. Mahluk kecil yang biasanya ceria ini kini menangis, berharap aku menentramkannya... mengembalikan dunianya... keceriaan-nya... yang masih sempurna apa adanya.

Hmm...bukankah pada saat-saat seperti itu seharusnya kita telah menjadi dewasa? Lebih dewasa?

2 komentar: